Pahlawan Tak Selalu Berseragam: Santri dan Spirit Jihad Ilmu di Era Modern
artikel

Pahlawan Tak Selalu Berseragam: Santri dan Spirit Jihad Ilmu di Era Modern

Diposting pada 20 November 2025

Kembali ke Blog

Ketika kita mendengar kata pahlawan, seringkali yang terlintas di benak adalah sosok yang gagah di medan perang, membawa senjata, dan berjuang mempertahankan kemerdekaan. Namun, dalam pandangan Islam dan sejarah bangsa Indonesia, arti kepahlawanan jauh lebih luas daripada itu.
Pahlawan tidak selalu berseragam militer — karena semangat perjuangan juga dapat lahir dari ruang-ruang ilmu, dari pesantren, dan dari hati santri yang ikhlas berjuang dengan pena, bukan pedang.

Santri dalam Lintasan Sejarah Perjuangan

Sejarah mencatat, banyak pahlawan bangsa lahir dari kalangan pesantren. Dari KH. Hasyim Asy’ari, KH. Kholil Bangkalan, hingga KH. Maimun Zubair— mereka bukan hanya ulama, tetapi juga pejuang kemerdekaan yang menanamkan nilai cinta tanah air sebagai bagian dari iman.
Melalui Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, para ulama dan santri menunjukkan bahwa membela bangsa dari penjajahan adalah bagian dari jihad fi sabilillah. Perjuangan mereka bukan semata fisik, tetapi juga perjuangan menegakkan nilai-nilai keadilan, kemerdekaan, dan martabat umat Islam.

Jihad Ilmu: Medan Juang Santri Masa Kini

Zaman telah berubah. Tidak lagi terdengar dentuman senjata dan sorak peperangan, tetapi tantangan baru muncul dalam bentuk lain — kebodohan, kemiskinan, degradasi moral, dan lemahnya semangat keislaman di tengah arus modernisasi.
Di sinilah letak jihad para santri masa kini: jihad dalam menuntut ilmu dan menyebarkan kebaikan.

Menuntut ilmu bukan sekadar mencari pengetahuan, tetapi juga membangun peradaban. Santri adalah pejuang yang menghidupkan nilai-nilai Islam dalam masyarakat, menjaga akidah, dan menjadi teladan dalam kejujuran, kedisiplinan, serta kecintaan terhadap ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda:


“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
- HR. Muslim

Hadis ini menegaskan bahwa jihad ilmu memiliki kedudukan mulia, karena dari ilmulah lahir para pemimpin, guru, dan pencerah umat.

Menjadi Pahlawan di Zaman Digital

Di era digital ini, santri memiliki peluang besar untuk berperan sebagai pahlawan modern.
Dengan kecakapan teknologi dan pemahaman agama, santri dapat berdakwah melalui media sosial, menulis karya inspiratif, atau bahkan mengembangkan inovasi yang membawa manfaat bagi umat.
Mengisi dunia maya dengan konten yang menyejukkan dan bernilai dakwah adalah bagian dari jihad masa kini.

Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab, tetapi juga tempat menempa karakter, moral, dan semangat perjuangan. Santri yang tekun belajar, patuh pada guru, dan ikhlas mengabdi — dialah pahlawan sejati di era modern.

Penutup

Menjadi santri berarti melanjutkan perjuangan panjang para ulama dan pahlawan terdahulu.
Mereka telah membuktikan bahwa jihad tidak selalu berarti mengangkat senjata — kadang ia berarti menahan hawa nafsu, melawan kebodohan, dan menjaga kemurnian niat dalam menuntut ilmu.
Pahlawan sejati adalah mereka yang berjuang dengan hati dan pengorbanan, demi kemaslahatan umat.

Tags: Tidak ada tag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *